Keragaman Bangsa Kembali Terkoyak
Baru-baru ini tepatnya 24 Januari 2012 lalu, konflik fisik antar kampung kembali membara di Sidomulyo Lampung Selatan. Kerugian fisik dan harta tak terhitung. Bertambah lagi catatan buruk negara dalam mengelola kemajemukan dan membina harmoni keragaman warganya.
Jokowi, SBY, dan Political Will
Membangun optimisme itu penting. Apalagi seorang pemimpin. Inisiatifnya untuk menstimulasi publik dapat berujung pada berdaya atau tidak berdayanya siapa pun yang ia pimpin.
Menimbang Perda Baru PKL Solo
Pemerintah Kota Solo melalui Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) bakal memungut pajak dari pedagang kaki lima (PKL) yang biasa beroperasi di kawasan protokol, trotoar, jalur strategis, dan jalan provinsi maupun pusat.
Ijazah Palsu dalam Pemilukada dan Kinerja Kepolisian
Belum lama ini, Polda Jawa Tengah mengeluarkan penyataan bahwa ijazah mantan Bupati Sragen Untung Wiyono yang digunakan untuk mencalonkan diri pada Pilkada Sragen tahun 2000 terbukti palsu.
Sejarah Malang dan Eksistensi Museum Mpu Purwa
Negara kita lahir dari sejarah panjang. Sejarah bumi pertiwi yang penuh intrik perebutan kekuasaan, dendam, dan politik. Keberadaan museum akan membawa kita ke zaman yang telah berlalu itu. Bagaimanakah nasib museum-museum itu, kini?
Ideologi Kapitalisme Rasuki Para Kepala Daerah
Sistem ekonomi, pendidikan, dan budaya konsumerisme masyarakat Indonesia merupakan modal utama untuk menanamkan ideologi kapitalisme dalam proses berpikir natural rakyat Indonesia, terutama para pemimpinnya secara tidak langsung.
Pegunungan Kendeng: Hilangnya Legitimasi Moral, Keadilan Sosial dan Antar Generasi
Sejak tahun 2008 sampai sekarang masyarakat di sekitar Pegunungan Kendeng yang terletak di perbatasan Kabupaten Pati dan Kabupaten Grobogan masih berjuang untuk mempertahankan Pegunungan Kendeng yang menjadi sasaran eksploitasi perusahaan-perusahaan besar semen, baik perusahaan BUMN (PT Semen Gresik Tbk) maupun swasta asing (PT Indocement dan PT Semen Grobogan).
RUUK DIY: Agar Yogya (Tetap) Istimewa
Jauh sebelum republik ada, masing-masing etnis di negeri ini telah memiliki nilai kearifan lokal. Para pendahulu bahkan berhasil membentuk peradabannya sendiri. RUUK DIY menimbulkan keresahan warga Yogyakarta. Pemerintah lupa, negara ini punya Bhinneka Tunggal Ika; majemuk itu satu, dan yang satu harus mengakui perbedaan.
Belajar dari Kota Solo
Solo punya cerita menarik. Tidak seperti kota lain yang merasa dikepung PKL, Solo justru menjadi eksis karena PKL. Saling mengerti antarlini menjadi daya dukung utama mewujudkannya. Solo, salah satu di antara yang berhasil mengelola sektor informal pada kadar yang sepantasnya.





Komentar Terbaru